Memotret Yogyakarta Kini, Belasan Perupa Sajikan Realita di Atas Kanvas

Dalam waktu yang terbatas, sekitar dua jam, para perupa harus menuangkan gagasannya dengan melukis on the spot.

Editor: Santo Ari
Tribun Jogja
Salah seorang perupa, Sadikin, sesaat setelah menyelesaikan lukisannya dalam agenda 'Memotret Yogyakarta Kini', di Halaman Kantor PDI Perjuangan DIY, Sabtu (17/4/21) sore lalu. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA  - Pemandangan berbeda tersaji di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY, Jetis, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (18/4/21) sore lalu. Belasan pelukis tampak berjajar menggoreskan sentuhan terbaiknya di atas kanvas.

Semua pelukis yang terlibat dalam kegiatan ini merupakan bagian dalam pameran lukisan AKARA, yang akan digelar di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY, pada 5 sampai 30 Juni 2021. Event itu, digulirkan guna memperingati bulan Bung Karno.

Dalam waktu yang terbatas, sekitar dua jam, para perupa harus menuangkan gagasannya dengan melukis on the spot. Dibalut tema 'Memotret Yogyakarta Kini', perupa itu antara lain, Bambang Heras, Tjokorda, Wilman, Sadikin, Rismanto, Suharmanto, Laksmi, Dyan Anggraini dan Hadi Soesanto.

"Kalau pameran AKARA nanti, digelar untuk memperingati bulan Soekarno. Ya, Juni itu jadi salah satu bulan bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia," terang Sekretaris PDI Perjuangan DIY, Totok Hedi Santosa, dijumpai di venue.

Di antara belasan seniman yang terlibat, sosok Sadikin Pard mampu menyita perhatian para pengunjung. Sebab, pelukis asal Malang, Jawa Timur itu, menggunakan kaki sebagai senjata utamanya, lantaran faktor keterbatasan fisik.

Sesekali pria yang tidak dikaruniai lengan ini menggunakan kaki dan dadanya, untuk menuangkan cat ke dalam kanvas. Ia pun menandaskan, keterbatasan tidak bisa menghalanginya untuk terus berkarya, terutama di bidang seni lukis ini.

"Saya sudah seneng melukis sejak TK, di Solo. Toh, tidak ada bedanya juga. Cuma, sehari-harinya saya aktivitas dengan kaki, karena nggak punya tangan, ya," ungkap Sadikin.

Di usia yang kini menginjak 53 tahun, ia memilih impresionis sebagai aliran melukisnya, karena dinilai cepat dan hasil yang lebih memuaskan. Lukisan dua ayam saling beradu, yang ia sajikan dalam event pun terselesaikan dalam 25 menit.

Menurutnya, lukisan tersebut menggambarkan situasi dan kondisi Indonesia di masa sekarang. Jelas Sadikin, dua ayam jago yang tengah beradu tersebut menggambarkan rakyat tanah air yang begitu mudah dibuat saling bertikai.

"Terus, kenapa ayam, bukan anjing? Karena sesuatu yang diadu di masyarakat kita kebanyakannya ayam. Jadi, hanya suatu gambaran, ya, atau filosofi saja lah," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga berharap kiprahnya ini bisa menginspirasi kaum difabel lain di tanah air. Sadikin pun mengajak agar keterbatasan fisik tidak menjadi halangan dan meredupkan keberanian untuk memiliki cita-cita.

"Jangan sampai patah semangat walaupun ada kekurangan. Kekurangan itu bukan halangan atau rintangan. Tapi, sebisa mungkin jadikan sebagai kelebihan," cetusnya.

"Seperti yang saya lakukan ini, (melukis) pakai tubuh dan kaki, adalah suatu kelebihan meski realisasinya saya tidak punya tangan," ucap Sadikin sembari tersenyum. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved