Gelar Festival Apeman, Warga Mangkukusuman Ingin Wujudukan Kampung Apem Pertama di Kota Yogya

Apeman di Mangkukusuman bertujuan membangun komunikasi antar warga serta mencari potensi kuliner tradisional yang dimiliki.

Editor: Santo Ari
Tribun Jogja
Warga Kampung Mangkukusuman, Gondokusuman, Kota Yogya menggelar festival apeman 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yuwantoro Winduajie

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Apem tak hanya jadi jajanan tradisional saja di Yogyakarta. Namun apem juga sering kali digunakan dalam berbagai acara adat di Yogyakarta.

Warga kampung Mangkukusuman memiliki cara tersendiri untuk menggali dan mengembangkan segala potensi di daerahnya.

Salah satunya dengan menggelar festival apeman yang dikemas dalam bentuk perlombaan dan kirab.

Perhelatan itu digelar di Gedung Pertemuan Mangkukusuman, Baciro, Yogyakarta dengan melibatkan sembilan Rukun Tetangga (RT) pada Minggu (4/4/2021).

Untuk diketahui, apeman merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan saat bulan Ruwah yaitu bulan menjelang Ramadhan.

Dalam pelaksanannya masyarakat biasa membuat sajian berupa apem, lengkap dengan ketan dan kolak.

Dibalik penyelenggaraan festival, warga setempat rupanya memiliki cita-cita khusus. Yakni menjadikan Mangkukusuman sebagai kampung apem pertama di Kota Yogyakarta.

"Ini hanya jadi awalan. Misi kami adalah membranding (Mangkukusuman) untuk menjadi kampung apem di Kota Yogya. Di Klaten kan ada apem Jatinom, nah goal kami supaya Mangkukusuman bisa jadi kampun apem di Kota Yogyakarta," terang Ketua Panitia Acara Ris Winarso.

Tak hanya perlombaan, warga setempat juga akan mengkirabkan sajian apem mengelilingi kampung. Nantinya, apem-apem tersebut akan dibagikan kepada seluruh tamu dan masyarakat di kampung itu.

Sebelum menggelar perlombaan, warga sempat menggelar kerja bakti bersih-bersih lingkungan di masing-masing RT.

"Ini nggak cuma apeman, untuk memecah masa kita mengadakan kerja bakti satu kampung," pungkasnya.

Kegiatan ini dibiayai secara swadaya oleh warga dengan dukungan dari donatur serta penggalangan dana dengan berjualan merchandise berupa topi dan kaos yang digagas oleh Kanoman Mangkukusuman Manunggal.

"Ide dari pemuda yang punya kas. Lalu pake uang kas kurang jadi kami nyebar proposal dan nyari donatur. Jual merchandise, 100 persen keuntungan untuk kegiatan pemuda ini," tambahnya.

Jika pandemi telah berakhir, warga setempat berupaya untuk kembali menggelar kegiatan serupa.

Namun kali ini bakal dipadukan dengan segala potensi budaya yang ada. Seperti melibatkan kelompok tari, karawitan, musik keroncong, dan batik jumputan.

Terpisah, Lurah Baciro, Handra Sutrisno mengatakan, selain wujud pelestarian kebudayaan, apeman di Mangkukusuman bertujuan membangun komunikasi antar warga serta mencari potensi kuliner tradisional yang dimiliki.

"Budaya apeman yang dikemas dalam acara festival apeman tujuannya mengharap berkah untuk menjauhkan bencana sekaligus melestarikan budaya Jawa dalam rangka nguri-uri budaya Jawa,'' jelasnya.

Dia berharap kegiatan festival yang baru pertama kali digelar tersebut dapat memunculkan efek-efek positif bagi warga serta dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.(*)

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved