Menikmati Kelezatan Apem Beras Bu Wanti yang Melegenda

Kata apem berasal dari bahasa Arab yaitu 'afuum' atau 'affuwun' yang memiliki arti ampunan.

Editor: Santo Ari
Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
Apem Beras Bu Wanti 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Masyarakat Yogyakarta tentu sudah tak asing dengan apem. Apem yang bercitarasa empuk dak manis ini merupakan jajanan tradisional yang bisa kita jumpai di pasar-pasar tradisional.

Selain menjadi jajanan pasar, apem juga kerap dijadikan sebagai media dalam suatu upacara adat di Yogyakarta.

Dilansir laman Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, kata apem berasal dari bahasa Arab yaitu 'afuum' atau 'affuwun' yang memiliki arti ampunan.

Dalam tradisi Jawa, kue apem memiliki filosofi yaitu ‘memohon ampunan kepada sang pencipta'.

Kue apem sangat lekat dalam ritual upacara tradisional Jawa, kue ini biasa digunakan pada acara-acara syukuran, seperti upacara selama kehamilan, sunatan, pernikahan hingga upacara kematian.

Apem Beras Bu Wanti

Salah satu apem yang legendaris di kota Jogja adalah ‘Apem Beras Bu Wanti' yang berlokasi di salah satu kios di Pasar Ngasem Yogyakarta.

‘Apem Beras Bu Wanti' sangatlah legendaris karena telah berdiri sejak tahun 90-an.

Kue tradisional ini bebentuk bulat pipih dan memiliki cita rasa manis dan gurih.

Pak Doni (40 tahun) merupakan generasi kedua, sebelumnya usaha apem ini merupakan usaha turunan dari ibunya. Penamaan ‘Apem Beras Bu Wanti’ diambil dari nama istri beliau.

‘Apem Beras Bu Wanti’ memiliki 2 kios di tempat yang berbeda.

Yang pertama berada di Pasar Ngasem dan mulai buka pukul 06.00 hingga pukul 08.00.

Yang kedua berlokasi di Taman Sari dan buka mulai pukul 10.00.

Terdapat perbedaan pengemasan dalam menjual apem. Di Pasar Ngasem, apem dibungkus menggunakan kertas minyak dan plastik.

Sedangkan di Taman Sari, kue tersebut dibungkus menggunakan longsong agar mengurangi penggunaan plastik, sehingga terlihat lebih cantik dan menarik minat pembeli untuk membeli.

Sebelum terjadinya pandemi, dalam satu hari Pak Dony mampu menjual ludes adonan apem sebanyak 3 kilogram atau sekitar 180 buah apem, namun saat masa pandemi perharinya tidak menentu bahkan menurun hingga 50%.

Untuk harga yang dibandrol pun cukup bersahabat dikalangan masyarakat, yaitu Rp 3000/buah.

Apem khusus di Bulan Ruwah

Salah satu keunikan apem adalah dengan adanya apem yang diproduksi di bulan Ruwah (satu bulan sebelum ramadhan). Hal ini dimaksudkan untuk mengenang para leluhur.

Apem pada bulan ini juga disajikan dengan tampilan yang sedikit berbeda, yaitu dengan menambahkan daun dedep srep (asrep) yang diletakkan di atas apem.

Sesuai dengan fiosofi Jawa yang berfungsi sebagai penutup atau payung, panggunaan daun dedep srep tidak hanya di bulan ruwah namun juga digunakan untuk sesaji.

Apem bisa dinikmati oleh semua kalangan, tetapi untuk pesananan keraton tidak boleh dicicipi terlebih dahulu.

Bahan yang digunakan untuk sebuah apem terdiri dari tepung beras, telur, kelapa muda, gula pasir, santan, ragi, dan diberi tambahan sedikit garam.

Konsumen juga boleh request saat memesan kue apem.

"Kalau mau pake tepung tiwul juga bisa biar apemnya itu meprel (pecah), lebih enak ditambahkan dengan irisan nangka juga bisa," ujarnya.

Uniknya, adonan apem dipanggang bukan menggunakan kompor melainkan menggunakan tungku dengan bahan bakar arang.

Setelah matang, apem diangkat dan disajikan dalam sebuah nampan berbentuk persegi berbahan aluminium.

Tidak hanya warga lokal saja yang menjadi pelanggan ‘Apem Beras Bu Wanti’ ini, namun juga ada turis dari mancanegara. Salah satunya dari Negara Jepang, karena menurut mereka (turis Jepang) kue apem ini sekilas mirip dengan kue Jepang yaitu dorayaki.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved