Pakar UGM Membedah Informasi Hoax dan Fakta Seputar Covid-19

Pakar Alergi Imunologi, dr. Deshinta Putra Mulya mengatakan banyak bermunculan hoaks seputar vaksin di tengah pelaksanaan program vaksinasi nasional

Editor: Santo Ari
ANTARA FOTO/HERU SRI KUMORO via kompas.com
Petugas medis bersiap di ruang perawatan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Lebih dari satu tahun masyarakat dunia, termasuk Indonesia berhadapan dengan virus Covid-19. Berbagai kebijakan telah diluncurkan untuk menekan angka penyebaran virus ini.

Meski sudah lebih dari satu tahun, di tengah masyarakat masih banyak beredar informasi yang simpang siur tentang keberadaan Covid-19 dan penanganannya. Bahkan tak sedikit informasi yang tidak tepat atau hoax seputar Covid-19. Hal ini tentu saja membuat kebingungan masyarakat.

Berangkat dari kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM mengadakan webinar bertajuk Mitos Vs Fakta Seputar Covid-19; Pencegahan, Vaksin, Diagnosis, dan Terapi pada Rabu (24/3).

Kegiatan yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait Covid-19 ini merupakan bagian dari kegiatan peringatan Dies Natalis ke-75 dan Lustrum XV FKKMK UGM.

Dilansir dari laman ugm.ac.id, Pakar Alergi Imunologi, dr. Deshinta Putra Mulya mengatakan banyak bermunculan hoaks seputar vaksin di tengah pelaksanaan program vaksinasi nasional Covid-19.

Salah satunya adalah vaksin Covid-19 membahayakan. Ia menegaskan jika hal tersebut tidak tepat, sebab dalam pembuatan vaksin telah melalui serangkaian penelitian panjang baik untuk melihat kemampuan membentuk antibodi, efek samping, hingga efikasi.

"Jadi, pernyataan vaksin Covid-19 berpotensi membahayakan itu tidak benar karena sudah melalui penelitian yang panjang dan setelah diberikanpun dilakukan observasi lagi," terangnya.

Deshinta menyebutkan masih terdapat sejumlah informasi lain seputar vaksin Covid-19 yang tidak benar ramai diperbincangkan seputar vaksinasi di masyarakat.

Beberapa diantaranya yaitu vaksin moderna dirancang untuk mengubah DNA manusia dan vaksin Covid-19 memiliki chip untuk melacak orang.

"Tidak benar vaksin Covid-19 ada chipnya, tidak bisa chip dimasukan melalui injeksi," tuturnya.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved