Persepsi Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Menurut Peniliti dari CfDS UGM

Masih terdapat hampir 40% masyarakat tidak setuju dengan kebijakan wajib vaksin Covid-19 yang mayoritas merupakan masyarakat berpendidikan tinggi.

Editor: Santo Ari
ist
Ilustrasi vaksin Covid-19 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM - Pemerintah telah melaksanakan vaksinasi Covid-19 sejak awal tahun 2021. Namun demikian, di sosial media masih banyak ditemukan polemik tentang pro kontra vaksinasi. 

Center for Digital Society (CfDS) UGM mencatatkan, berdasarkan aktivitas daring masyarakat di sosial media, masih ditemukan seruan kelompok yang menolak vaksin Covid-19. Terdapat 49,9% dari total 601 responden menolak untuk menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama.

Menanggapi isu tersebut, Center for Digital Society (CfDS) melakukan kajian dan riset yang mendalam yang diinisiasi oleh Amelinda Pandu Kusumaningtyas, Iradat Wirid dan tim selaku peneliti senior CfDS.

Riset ini berusaha menelaah lebih lanjut mengenai persepsi masyarakat keterkaitan pandangan mereka terhadap Covid-19 dan sumber informasi yang beredar.

Acara diselenggarakan pada hari Rabu, 24 Maret 2021 melalui Google Meets dan disiarkan secara langsung di YouTube (ugm.id/rilisvaksincfds).

Tingkat Pendidikan dan Persepsi terhadap Vaksin Covid-19

Berdasarkan survei CfDS pada bulan Februari 2021, mayoritas masyarakat Indonesia yang berpendidikan tinggi (diploma-S3) menganggap bahwa vaksin Covid-19 penting, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Selain itu, merek vaksin Covid-19 yang paling banyak dirujuk diantaranya Sinovac (41,8%), Pzifer, dan Biofarma.

Masyarakat tersebut menilai bahwa vaksin harus bersifat wajib, terlepas dari gratis atau tidaknya. Akan tetapi, masih terdapat hampir 40% masyarakat tidak setuju dengan kebijakan wajib vaksin Covid-19 yang mayoritas merupakan masyarakat berpendidikan tinggi.

Secara langsung, hal ini berdampak pada persepsi negatif masyarakat yang menyurutkan kesediaan untuk menerima vaksin.

Menurut hasil penelitian CfDS, sebagian besar masyarakat Indonesia pengguna layanan digital mengakses informasi Covid-19 melalui lini sosial media.

Namun, sebanyak 81,5% masyarakat masih bersinggungan dengan berbagai bentuk postingan yang memuat teori konspirasi.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved