Penelitian Menyebutkan Lansia Hanya Memiliki Perlindungan 47 persen Terhadap Infeksi Ulang Covid-19

Penelitian menemukan bahwa orang yang berusia di atas 65 tahun hanya memiliki perlindungan 47 persen terhadap infeksi berulang.

Editor: Santo Ari
ANTARA FOTO/HERU SRI KUMORO via kompas.com
Petugas medis bersiap di ruang perawatan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM - Pasien yang sembuh dari virus Covid-19 disebut akan memiliki antibodi, namun banyak kasus telah ditemukan, meski seseorang memiliki antibodi,  tetap mendapatkan kemungkinan adanya infeksi ulang.

Dilansir dari kompas.com, sebuah penelitian yang terbit di jurnal Lancet pada Rabu (17/3/2021) mengungkap, kebanyakan orang yang pernah terinfeksi Covid-19 memiliki antibodi yang membuat dirinya tidak terinfeksi ulang, setidaknya selama 6 bulan.

Kendati kasus infeksi ulang tergolong langka, tapi orang lanjut usia (lansia) lebih berisiko mengalami infeksi ulang dibanding orang muda. Studi itu menemukan bahwa hanya 0,65 persen pasien yang terinfeksi Covid-19 dua kali.

Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang berusia di atas 65 tahun hanya memiliki perlindungan 47 persen terhadap infeksi berulang.

Sementara orang yang berusia lebih muda (di bawah 60 tahun) memiliki perlindungan hingga 80 persen.

"Studi kami mengkonfirmasi apa yang tampaknya dikatakan oleh sebagian orang; Infeksi ulang Covid-19 jarang terjadi pada orang yang lebih muda dan sehat, tetapi lansia berisiko lebih besar untuk tertular lagi," kata Steen Ethelberg dari Statens Serum Institut Denmark.

"Karena lansia juga lebih mungkin mengalami gejala penyakit parah, temuan kami menjelaskan betapa pentingnya menerapkan kebijakan untuk melindungi lansia selama pandemi," imbuh Ethelberg dilansir Reuters, Kamis (18/3/2021).

Para penulis penelitian tidak menemukan bukti bahwa perlindungan terhadap infeksi ulang menurun selama enam bulan setelah sembuh dari Covid-19.

Sebab itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai perlindungan terhadap infeksi ulang dari varian virus corona.

Data yang dianalisis dikumpulkan melalui strategi pengujian nasional Denmark, di mana 69 persen populasi, atau 4 juta orang, diuji selama tahun 2020.

Mengomentari hasil studi ini, profesor Imperial College London Rosemary Boyton dan Danny Altmann, mengatakan hasil studi ini menunjukkan perlindungan yang lebih rendah dan lebih memprihatinkan daripada penelitian sebelumnya.

“Semua data ini adalah konfirmasi untuk SARS-CoV-2. Harapan perlindungan kekebalan melalui infeksi alami mungkin tidak dapat kami jangkau dan program vaksinasi global dengan vaksin yang berkhasiat tinggi adalah solusi yang bertahan lama,” kata mereka dalam potongan komentar yang juga diterbitkan di Lancet.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Infeksi Ulang Covid-19 Langka, tapi Sering Dialami Lansia

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved