Pemerintah Tidak Melarang Mudik saat Libur Lebaran 2021, Ini Pendapat Epidemiolog UGM

Jika kemudian protokol kesehatan tidak diterapkan dengan baik, maka penularan pasti akan tetap terjadi

Editor: Santo Ari
Shutterstock
ilustrasi mudik 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM - Hari raya Lebaran tahun 2021 akan berbeda dengan tahun lalu. Untuk tahun ini pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengumumkan tidak akan melarang untuk mudik Lebaran.

Sebagaimana diketahi, tahun lalu pemerintah melarang masyarakat untuk mudik Lebaran untuk menekan angka penularan Covid-19 lewat perjalanan orang antar daerah.

Terkait kondisi Lebaran tahun ini, Epidemiolog UGM, dr. Riris Andono Ahmad mengatakan bahwa kemungkinannya sangat kondisional.

Ia menilai ada beberapa skenario yang mungkin menjadi pertimbangan pemerintah tidak melakukan pelarangan mudik tahun ini di tengah pandemi Covid-19.

“Mungkin beranggapan coverage imunisasinya sudah cukup bagus dan itu mungkin akan menyebabkan situasinya lebih bisa dikendalikan," katanya sesuai dilansir dari laman ugm.ac.id.

Hanya saja menurutnya, ini bukan soal coverage imunisasi yang bagus. Jika kemudian protokol kesehatan tidak diterapkan dengan baik, maka penularan pasti akan tetap terjadi dan bisa menjadi banyak meskipun penanganannya tidak serumit sebelum mendapat vaksin.

Sayangnya, coverage imunisasi belum banyak/ belum bagus karena kebanyakan baru dilakukan ke pusat-pusat vaksinasi yang notabene adalah pusat-pusat perkotaan.

Oleh karena itu, meski telah menerima imunisasi vaksin Covid-19 diharapkan tetap menerapkan protokol kesehatan agar tidak tertular karena kemungkinan tertular tetap ada.

Riris menyebut pilihan moda transportasi bisa menjadi faktor tingginya transmisi virus ke daerah-daerah di saat mudik nanti. Karenanya pemerintah saat ini mencoba untuk memfasilitasi koridor-koridor transportasi publiknya dengan GeNose dan sebagainya.

Menurutnya, public tansport relatif jauh lebih aman, masalahnya adalah bagi mereka yang melakukan perjalanan mudik bersama. Misalnya, dengan sewa bareng, kondisi ini justru bisa menjadi moda transmisi virus ke daerah karena pengawasan yang mungkin tidak begitu ketat.

“Beberapa skenario bisa terjadi, tergantung nanti bagaimana situasinya. Itu kan sangat cair ya, banyak variabel yang berperan disitu," ucapnya.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved