Apakah Benar Mengandung Tripsin Babi? Berikut Fakta Tentang Vaksin Covid-19 dari AstraZeneca

Pihak AstraZeneca menegaskan bahwa vaksin Covid-19 AstraZeneca tidak bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya.

Editor: Santo Ari
(SHUTTERSTOCK/rafapress)
Ilustrasi vaksin Oxford-AstraZeneca yang dinamai AZD1222. Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Oxford University dan AstraZeneca untuk melawan infeksi virus corona. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM - Pemerintah mendatangkan vaksin produk AstraZeneca untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Namun sejak didatangkan ke Indonesia, vaksin jenis ini menuai banyak konflik.

Yang terbaru, vaksin ini menimbulkan polemik karena diduga mengandung tripsin babi.

Terkait hal tersebut, simak beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca.

1. Dari Inggris dan kerja sama dengan Universitas Oxford

Dilansir dari Forbes, 12 Mei 2020, AstraZeneca adalah holding company atau perusahaan induk yang bergerak di bidang riset, pengembangan, dan manufaktur produk farmasi.

Perusahaan ini didirikan pada 17 Juni 1992, dan bermarkas di Cambridge, Inggris. Produk-produk dari AstraZeneca telah banyak digunakan di bidang kesehatan, meliputi onkologi, kardiovaskular, ginjal, metabolisme, dan pernapasan.

Dalam proses pengembangan vaksin Covid-19, AstraZeneca menjalin kerja sama dengan Universitas Oxford, Inggris.

Dilansir dari laman resmi AstraZeneca, 30 April 2020, AstraZeneca dan Universitas Oxford telah mencapai kesepakatan tentang pengembangan dan distribusi vaksin Covid-19.

Dalam kesepakatan itu, AstraZeneca akan bertanggung jawab di bidang pengembangan dan manufaktur global, serta pendistribusian vaksin AZD1222 ke seluruh dunia.

2. Vaksin vektor adenovirus simpanse

Vaksin yang dikembangkan AstraZeneca dan Oxford adalah vaksin vektor adenovirus simpanse.

Tim pengembang vaksin mengambil virus adenovirus (virus flu) yang biasanya menginfeksi simpanse dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Selain itu, vaksin AstraZeneca ini juga mengandung materi genetik dari protein spike virus SARS-CoV-2.

3. Ada lebih dari 1,1 juta dosis di Indonesia

Lebih dari 1,1 juta dosis vaksin bikinan Oxford-AstraZeneca ini tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021) sore melalui skema COVAX dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pantauan Kompas.com dari siaran YouTube resmi Sekretariat Presiden, vaksin tiba sekitar pukul 17.45 WIB di Bandara Udara Soekarno-Hatta, Tangerang. Tampak satu kontainer besi besar mulai diturunkan dari pesawat.

Ada pun jenis vaksin yang datang adalah Astrazeneca sebanyak 1.113.600 vaksin, dengan total berat 4,1 ton.

4. Mendapat izin penggunaan darurat (EUA) BPOM

Izin penggunaan darurat vaksin AstraZeneca ini disampaikan oleh Kepala Badan POM RI Penny K Lukito pada Konferesi Pers dalam Penerbitan Emergency Use Authorization (EUA) atau Izin Penggunaan Darurat, Selasa (9/3/2021).

Penny menjelaskan bahwa dari hasil evaluasi keamanan, berdasarkan data hasil uji klinik yang disampaikan, pemberian vaksin AstraZeneca 2 dosis dengan interval 4-12 minggu pada total 23.745 subyek dinyatakan aman dan dapat ditoleransi dengan baik.

Kemudian, untuk evaluasi khasiat, pemberian vaksin AstraZeneca menunjukkan kemampuan yang baik dalam merangsang pembentukan antibodi, baik pada populasi dewasa maupun lanjut usia.

Vaksin AstraZeneca telah memperoleh Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM pada 22 Februari 2021 dengan nomor EUA2158100143A1 dan ketika sampai di Indonesia langsung dikirim untuk disimpan di gudang PT Bio Farma di Bandung.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
924 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved