Bendolole, Peninggalan Sejarah di Kelurahan Kricak yang Digunakan untuk Pengairan dan Militer

bendolole adalah pintu saluran air bawah tanah yang masuk ke wilayah dalam Kraton Yogyakarta, bentuknya berupa terowongan

Editor: Santo Ari
Pemkot Yogyakarta
Kondisi Bendolole di Kelurahan Kricak 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Di sudut kampung Bangunrejo, tepatnya di RW 12 Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta terdapat satu lokasi yang saat ini masih belum dikenal orang. Padahal, di lokasi tersebut terdapat potensi wisata yang luar biasa.

Dilansir dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta, lokasi yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Bendolole itu sekarang masih sangat liar. Banyak sekali pepohonan yang berukuran besar di sekitarnya. Bahkan,tak jarang ditemukan binatang berbisa di sekitarnya.

Apa itu Bendolole?

Menurut Lurah Kricak, Mohammad Ikhwan Pribadi, bendolole adalah pintu saluran air bawah tanah yang masuk ke wilayah dalam Kraton Yogyakarta, bentuknya berupa terowongan dengar lebar dan ketinggian bervariasi dan tentunya sangat panjang karena masuk melingkar di bawah Kota Yogyakarta.

“Aliran air bendolole mulai dari Kelurahan Kricak kemudian ke selatan melalui barat Stasiun Tugu kemudian terus ke selatan, masuk Masjid Gede, masuk lingkungan dalam Kraton, kemudian ke Taman Sari. Dari sana kemudian ke selatan, belok ke barat di Mantrijeron, masuk kembali ke Kali Winongo. Peta saluran dari bendolole sampai tamansari tersimpan di Dinas PUPKP Kota Yogyakarta,” jelasnya, Jumat (12/03/2021).

Ia mengungkapkan jika sampai saat ini belum ditemukan catatan pasti mengenai kapan dan oleh siapa saluran air tersebut dibangun.

Akan tetapi, lanjutnya, mengingat catatan-catatan sejarah lain kemungkinan besar Bendolole dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I.

“Seiring dengan dibangunnya benteng Baluwarti, tamansari, dan lain sebagainya sebagai respon atas dibangunnya Benteng Vredeberg oleh Belanda. Kemungkinan juga memakai tenaga arsitek Portugis sebagaimana benteng Baluwarti yang berasal dari bahasa Portugis Baluarte/Benteng,” ungkapnya.

Dengan demikian, tambahnya, saluran air bawah tanah yang berhulu di Kricak ini difungsikan untuk keperluan pengairan rumah dan fasilitas umum dalam kraton. Namun ada kemungkinan juga sekaligus untuk keperluan pertanahan/militer.

“Sebagai drainase atau keperluan rumah tangga, saluran air utama tersebut kemudian bercabang menjadi saluran-saluran kecil yang mengalir di bawah perumahan dalam Kraton, kemudian kembali ke saluran utama dan sebelum akhirnya kembali ke Kali Winongo,” bebernya.

Sementara secara militer bisa jadi saluran tersebut juga difungsikan untuk jalan rahasia, melarikan diri manakala situasi darurat, jalan keluar masuk rahasia, dan lain sebagainya.

“Jika hal ini benar, maka sangat dimungkinkan juga di beberapa titik terdapat bangunan luas yang difungsikan untuk gudang atau bunker,” katanya.

Kondisi Bendolole

Saat ini kondisi Bendolole sangat tidak terurus namun masih berfungsi meski jauh dari maksimal. Pintu airnya yang terbuat dari plat baja sudah rusak dan sudah sangat sulit dibuka tutup.

"Akan tetapi manakala banjir terlalu besar, masih diusahakan untuk difungsikan. Di sana juga masih ada petugas penjaga yang menempati “Rumah Dinas”, meski bukan lagi petugas resmi karena petugas resmi sudah wafat tahun 1970-an,” jelasnya.

Dahulu pintu air bendolole dijaga oleh petugas khusus dari kasultanan Yogyakarta. Mendapatkan upah melalui tanah lungguh sekaligus rumah dinas, dan mendapatkan nama gelar abdi dalem. Dari cerita masyarakat, pada masa Sultan Hamengkubuwono IX bertahta, beliau sering sekali mengunjungi Bendolole secara inkognito.

Menutup pembicaraan, Lurah Kricak ini menginginkan adanya revitalisasi terhadap saluran air Bendolole ini. Sebagai upaya menghidupkan kembali saluran air bawah tanah Kota Yogyakarta dimulai dari pintu air Bendolole ini agar dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal, terutama terkait pendidikan, sejarah, kebudayaan, dan pariwisata.

Apabila bisa direvitalisasi, tambahnya, maka saluran air ini akan berujud lorong luas nan panjang.

Seiring dengan hal tersebut, tentu menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Baik dari wujud fisiknya maupun nilai seninya sebagai warisan budaya leluhur. Sebuah hasil pemikiran dan karya nyata luar biasa leluhur kita.

“Selain itu juga menjadi solusi terhadap ancaman banjir akibat kurangnya resapan air tanah dan kurangnya saluran air menuju sungai di Kota Yogyakarta dan bahkan bisa menjadi objek wisata yang sangat khas, unik, dan bahkan mungkin bisa menjadi warisan dunia,” tandas Ikhwan.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved