Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa/Kalurahan sebagai Wajah Keistimewaan DIY

Desa Budaya yang mengaktualisasikan, mengembangkan, dan mengkonservasi kekayaan potensi budaya yang dimilikinya yang tampak pada adat dan tradisi

Instagram/@symphonytravelink
Penampilan kesenian tradisional 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta tak lepas dari Urusan Kebudayaan yang diselenggarakan untuk memelihara dan mengembangkan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY.

Kebijakan yang ditempuh dalam mengupayakan peningkatan ketentraman dan kesejahteraan masyarakat adalah dengan pemberdayaan masyarakat melalui desa.

Salah satunya adalah pembentukan desa budaya. Desa Budaya ini merupakan salah satu inovasi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam menyikapi peluang, potensi, dan isu strategis terkait sosial kemasyarakatan.

Sri Sultan Hamengku Buwono X meyakini bahwa jika segala potensi kebaikan itu dilancarkan dari Desa dengan strategi 'Desa Mengepung Kota', niscaya desa akan menjadi sentra pertumbuhan.

Selanjutnya dikatakan bahwa dalam konteks implementasi, pembangunan desa harus lebih diprioritaskan. Konsep ini relevan untuk mengakselerasi pembangunan Desa dalam mengejar kemajuan perkotaan, karena sumber potensinya berada di pedesaan.

Desa Budaya adalah desa atau kalurahan yang mengaktualisasikan, mengembangkan, dan mengkonservasi kekayaan potensi budaya yang dimilikinya yang tampak pada adat dan tradisi, kesenian, permainan tradisional, bahasa, sastra, aksara, kerajinan, kuliner, pengobatan tradisional, penataan ruang, dan warisan budaya.

Desa/Kelurahan Budaya di DI Yogyakarta sudah sejak 1995 ditetapkan dengan Keputusan Gubernur DI Yogyakarta nomor 325/KPTS/1995. Pada mulanya berjumlah 32 dengan lokasi desa-desa yang ada di Kabupaten, sedangkan Kota Yogyakarta belum ada Desa Budaya.

Sejak tahun 1995 sampai 2013, Desa Budaya telah mengalami perkembangan potensi dan pembangunan, begitu juga keinginan untuk menetapkan adanya Kelurahan Budaya di Kota Yogyakarta. Selanjutnya melalui SK Gubernur Nomor 262/KEP/ 2016 tentang Penetapan Desa/Kelurahan Budaya, telah terbentuk 56 Desa Budaya.

Pembentukan Desa Mandiri Budaya

Desa/Kalurahan Mandiri Budaya adalah desa/kalurahan mahardika, berdaulat, berintegritas, dan inovatif dalam menghidupi dan mengaktualisasikan nilai-nilai keistimewaan melalui pendayagunaan segenap kekayaan sumber daya dan kebudayaan yang dimilikinya dengan melibatkan partisipasi aktif warga dalam pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Tujuannya untuk mewujudkan kelestarian semesta ciptaan, kesejahteraan, dan ketentraman warga dalam ke-bhinneka-tunggal-ikaan.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 93 Tahun 2020 tentang Desa/Kalurahan Mandiri Budaya dan Keputusan Gubernur Nomor 364/KEP/2020 tentang Penetapan Desa/Kalurahan Mandiri Budaya Tahun 2020, telah dibentuk 10 desa/kalurahan mandiri budaya yaitu Desa/Kalurahan Bejiharjo, Pagerharjo, Jatimulyo, Putat, Girikerto, Bangunkerto, Pandowoharjo, Wedomartani, Sabdodadi dan Margodadi.(*)

Ikuti kami di
Penulis: Santo Ari
Editor: Santo Ari
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved