Lumbung Pangan Mataram untuk Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri

Lumbung Pangan Mataram diharapkan menjadi lumbung pangan desa yang dapat mendukung ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan di DIY

Penulis: Santo Ari
Editor: Santo Ari
tribunjogja
Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi saat mengikuti agenda panen raya di Kampung Markisa, Blunyahrejo, Tegalrejo, Kota Yogyakarta, tahun lalu 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Lumbung Pangan Mataram merupakan kegiatan untuk menghidupkan kembali tradisi pertanian di Yogyakarta.

Caranya adalah dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menyediakan kebutuhan pangan dengan prinsip kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumber pangan lokal, pelestrian sumber daya genetik pangan, dan kebun bibit.

Lumbung Pangan Mataram diharapkan menjadi lumbung pangan desa yang dapat mendukung ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan di DIY.

Akhir tahun lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kota Yogyakarta berupaya mewujudkan lumbung pangan di wilayahnya.

Terdapat tiga lokasi Program Lumbung Pangan Mataram yang didanai dengan alokasi Dana Keistimewaan (Danais).

Ketiga lokasi lumbung pangan yang digagas itu meliputi Blunyahrejo, di Kecamatan Tegalrejo, Purbayan, Kecamatan Kotagede, hingga Suryodiningratan, di Kecamatan Mantrijeron.

Alokasi Danais yang digelontorkan untuk realisasi program itu mencapai Rp 600 juta, dengan bentuk kegiatan berupa pembinaan wilayah, sampai benar-benar mampu memproduksi hasil pangannya secara mandiri.

Lokasi-lokasi yang sudah ditetapkan sebagai pelaksana program Lumbung Pangan Mataram tersebut, kedepannya diwajibkan untuk memenuhi tiga aspek. Yakni, karbohidrat, protein dan sayuran.

Tetapi, untuk jenis tanaman yang jadi fokus garapan, disesuaikan dengan kesepakatan.

Dincotohkan, agar masyarakat daapt memenuhi aspek karbohidrat maka bisa menanam ubi jalar, singkong atau yang lainnya.

Kemudian, untuk protein bisa dari ayam, atau lele. Sedangkan dari sayuran diharapkan dapat bereneka ragam sehingga ada variasi pangan untuk masyarakat.

Nantinya, para pengelola lumbung pangan juga akan mendapat pembinaan dan pendampingan deretan ahli dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK), serta Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) Universitas Gajah Mada (UGM), untuk mewujudkan hasil yang mumpuni.

Dengan pendampingan tersebut, pemerintah beraharap hasil pengelolaan pertanian juga bisa maksimal. Tidak hanya dari segi budidaya di lahan sempit, tetapi faktor ekonominya juga.

Sekadar informasi, satu di antara tiga lokasi yang dipilih untuk program Lumbung Pangan Mataram di Blunyahrejo, Kecamatan Tegalrejo, atau dikenal dengan nama Kampung Markisa bahkan sudah menggelar panen raya perdanannya pada kisaran awal bulan Agustus kemarin.

Berbagai jenis tanaman, terutama sayur-mayur pun mulai dibudidayakan Kampung Markisa sejak Februari 2020 lalu.

Sebut saja beberapa jenis sawi, kenikir, kacang panjang, ubi rambat, gambas, terong dan jagung, yang kini tumbuh subur serta menghasilkan pundi-pundi signifikan.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved