Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Panti Rapih

Gedung rumah sakit baru selesai dibangun secara keseluruhan pada tanggal 25 Agustus 1929.

Penulis: Santo Ari
Editor: Santo Ari
RS Panti Rapih
Gedung Rawat Jalan Borromeus RS Panti Rapih 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Rumah Sakit (RS) Panti Rapih adalah rumah sakit bertipe B yang beralamat di Jalan Cik Di Tiro 30, Kota Yogyakarta.

Bangunan RS Panti Rapih seluas 62.875,5 m2 berdiri di area 42.093 m2. Dari data per Desember 2020, RS Panti Rapih memiliki 409 bed dengan rincian 358 Rawat Inap, 51 Ruang Intensif.

Rumah Sakit Panti Rapih dikelola oleh Yayasan Panti Rapih yang didirikan oleh Ordo Katolik Carolus Borromeus.

Sejarah Singkat

Dilansir dari laman resmi RS Panti Rapih, sejarah rumah sakit ini dimulai pada 15 September 1928 saat Ordo Katolik Carolus Borromeus dengan dibantu Ir. Schmutzer van Rijckevorsel memulai pembangunan gedung Rumah Sakit Carolus Borromeus cabang Yogyakarta.

Bangunan rumah sakit ini dirancang serupa dengan biara utama ordo St. Carolus Borromeus di Maastricht, Belanda.

Gedung rumah sakit baru selesai dibangun secara keseluruhan pada tanggal 25 Agustus 1929.

Selesainya pembangunan tersebut ditandai dengan pemberkatan gedung oleh uskup Katolik Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, S.J. Pada 14 September 1929.

Rumah sakit pun dibuka secara resmi oleh Sultan Hamengkubuwono VIII sebagai Rumah Sakit Onder de Bogen (di bawah lengkungan/gereja).

Pada awalnya, pasien yang dirawat adalah orang-orang Belanda dan pejabat/keluarga Kraton.

Dan untuk menolong orang yang tidak mampu, didirikanlah klinik rawat jalan oleh ordo Brothers of Christian Instruction (FIC).

Jepang Mengambil Alih Rumah Sakit

Tahun 1942, Jepang menguasai Indonesia dan banyak suster serta dokter warga negara Belanda yang bekerja di rumah sakit ini ditangkap dan ditawan di camp konsentrasi.

Tentara Jepang mengambil alih rumah sakit dan memaksa pengelola untuk mengganti nama rumah sakit yang semula dari bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia.

Oleh sebab itu, Uskup Semarang Mgr. Soegijapranata, S.J. mengganti nama rumah sakit menjadi RS Panti Rapih (Pengobatan) dan Suster Sponsaria dipilih sebagai ketua rumah sakit.

Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah kalah terhadap Pasukan Sekutu dalam Perang Pasifik, ordo Suster Carolus Borromeus kembali mengelola RS Panti Rapih.

Pada saat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, Rumah Sakit Panti Rapih banyak merawat para pejuang yang terluka dalam pertempuran. Salah satu pasien yang dirawat pada tahun 1948 adalah Jendral Soedirman.

Tahap demi tahap, Rumah Sakit Panti Rapih melengkapi dirinya dengan fasilitas‑fasilitas yang baik.

Saat ini, bangunan Onder de Bogen yang terletak di sebelah barat RS Panti Rapih telah ditetapkan sebagai Warisan Cagar Budaya oleh WHO.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved