Sumbu Filosofi Yogyakarta

Makna dari sumbu filosofi ini adalah bagaikan perjalanan manusia sejak bayi dilahirkan, tumbuh besar, dewasa, menikah hingga kematian tiba.

BPCB DIY
Panggung Krapyak di Bantul DIY. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA  - Sumbu filosofi merupakan garis yang menghubungkan antara Tugu Pal Putih atau Tugu Golong-Gilig, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Panggung Krapyak.

Keberadaan sumbu filosofi jelas ada dan nampak berbeda dengan garis imajiner.

Sumbu filosofi pada dasarnya adalah aset yang harus dijaga dengan hati-hati untuk eksistensi Keistimewaan Yogyakarta dan masa depan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Makna dari sumbu filosofi ini adalah bagaikan perjalanan manusia sejak bayi dilahirkan, tumbuh besar, dewasa, menikah hingga kematian tiba.

Perjalanan tersebut dimulai dari Panggung Krapyak menuju Tugu Jogja.

Secara filosofis dari Panggung Krapyak ke Kraton dan Tugu memberikan gambaran konsep sangkan paraning dumadi (dari mana asal manusia dan arah kemana yang akan dituju).

Gambaran manusia dari embrional, lahir, berproses, berkembang, eksis, dan pada akhirnya kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tugu Jogja yang bebas dari kabel
Tugu Jogja yang bebas dari kabel (tribunjogja)

Penataan sumbu filosofi memiliki tujuan:

1.  Merevitalisasi keberadaan simbol-simbol sumbu filosofi ( Panggung Krapyak, Kawasan Kraton Yogyakarta, Kawasan Malioboro, hingga Tugu Jogja ) sebagai pusat kebudayaan yang terus hidup;

2.  Menata Kawasan Malioboro untuk mengurai problematika dinamika perkotaan yang terkesan tidak nyaman, semrawut, macet, kumuh, dan kotor; serta

3. Menata dan mengelola SDM yang memiliki kepentingan dalam kawasan sumbu filosofi agar memiliki rasa kepemilikan secara berkelanjutan.

Ikuti kami di
Penulis: Santo Ari
Editor: Santo Ari
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved