Museum Batik Yogyakarta

Museum Batik Yogyakarta mengembangkan klinik perawatan dan konservasi batik yang merekam jejak langkah proses batik dan ragam motifnya.

museumbatik.com
Bangunan bagian depan museum batik Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Selain berkonsentrasi pada koleksi, Museum Batik Yogyakarta juga mengembangkan klinik perawatan dan konservasi batik yang merekam jejak langkah proses batik dan ragam motifnya.

Ragam motif yang dimiliki oleh Museum Batik Yogyakarta adalah Jawa Tengahan (Yogyakarta dan Solo), pasisiran (Semarang, Demak, Pekalongan dan Kedungwuni, Cirebon dan Lasem), Madura, mBayat-Klaten, Kebumen, Kulon Progo, Imogiri, dan beberapa daerah lainnya.

Sejarah batik, kurang lebih seperti yang dilansir oleh berbagai sumber, menjelaskan bagaimana rentang waktu dapat membuat corak dan motif batik menjadi berkembang.

Batik selalu lekat dengan filosofi yang reflektif dalam dimensi keseharian manusia. Oleh karenanya, secanggih apapun teknologi tekstil saat ini, budaya batik tetap menjadi tak tergantikan.

Selain dibutuhkan ketrampilan dan ketekunan, pewarnaan alami menciptakan warna-warna yang unik dan khas pada tiap lembarnya, karena pada setiap proses pencelupan warna, komposisi warna dapat berubah seiring proses oksidasi dan kimia yang alamiah.

Setiap pengrajin batik pun pada akhirnya akan mempunyai otentitasnya yang tidak dapat ditiru.

Wisatawan mancanegara saat menjajal workshop membatik di Museum Batik Yogyakarta.
Wisatawan mancanegara saat menjajal workshop membatik di Museum Batik Yogyakarta. (museumbatik.com)

Sejarah

Museum Batik Yogyakarta berdiri atas prakarsa sepasang suami istri Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih yang bertujuan sebagai sarana pelestarian koleksi batik dan alat-alat pendukung proses pembuatan batik.

Jumlah koleksi mencapai kurang lebih 1200 buah yang meliputi kain batik, alat dan perlengkapan membatik seperti wajan, anglo, canting, dan lain sebagainya.

Koleksi unggulannya terdiri dari berbagai kain batik dari abad 18 sampai awal abad 19 yang berupa kain panjang dan sarung.

Koleksi lain berupa batik karya Van Zuylen dan Oey Soe Tjoen, serta batik-batik buatan tahun 1700-an. Batik Van Zuylen menampilkan corak Eropa dengan mengenalkan warna-warna baru selain merah dan biru yang klasik, ditambah dengan gradasi warna yang sempurna dengan garis-garis sederhana dan motif geometris yang rapi memunculkan gaya ragam hias dan komposisi yang menarik.

Termasuk bagian dari Museum Batik Yogyakarta adalah museum sulaman Indonesia yang didirikan oleh Ibu Dewi Sukaningsih pada tahun 1980.

Koleksi kain sulam yang berukuran 400 cm x 90 cm mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2000 sebagai sulaman terpanjang, sekaligus menghantarkan Museum Batik Yogyakarta sebagai pemrakarsa museum sulaman pertama di Indonesia.

Museum Batik Yogyakarta juga menyediakan pelatihan membatik bagi para pengunjung yang ingin belajar membatik yang hasilnya dapat dibawa pulang.

Pada tahun 2015, Museum Batik Yogyakarta menciptakan “Batik Starter Kit” untuk mengajak generasi millenial membatik dengan cara yang lebih mudah dan ringkas.

Baca juga: Museum Geoteknologi Mineral (GTM) UPN Veteran Yogyakarta

Harga Tiket

Tiket Museum : Rp. 30.000,-/orang
Tiket Workshop : Mulai Rp. 55.000,-/orang

Jam Operasional

Jam Buka Setiap Senin – Sabtu pukul 09.00 – 15.00 WIB.

Hari minggu dan hari besar mohon untuk reservasi terlebih dahulu.

Wisatawan mancanegara saat memamerkan hasil karya batik di Museum Batik Yogyakarta.
Wisatawan mancanegara saat memamerkan hasil karya batik di Museum Batik Yogyakarta. (museumbatik.com)

Halaman selanjutnya

Fasilitas

...

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved