Sejarah Pengabdian dan Pendidikan Prof Dr dr Sardjito

Sosok pejuang ilmuan dan ilmuan pejuang ini mengalami berbagai lika liku pendidikan tanah air.

Penulis: Wahyu Setya Nugraha
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
Dok Humas RSUP Dr Sardjito Yogyakarta
Sosok ilmuan pejuang dan pejuang ilmuan Prof Dr dr Sardjito. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Tanggal 20 Mei 1908, dengan dimotori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo organisasi Boedi Oetomo didirikan. Sejak didirikannya organisasi itu, Sardjito masuk menjadi anggota karena ketertarikan pada bidang pendidikan sambil belajar berpolitik dalam organisasi.

Masuknya Sardjito kedalam anggota Boedi Oetomo menjadi cikal bakal Sardjito memiliki jiwa nasionalisme.

Walaupun telah menjadi anggota Boedi Oetomo, Sardjito tidak meninggalkan begitu saja tekatnya untuk berkecimpung di dunia kesehatan.

Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito bekerja di rumah sakit di Jakarta sebagai dokter selama setahun kemudian pindah di Institut Pasteur, Jakarta sebagai dokter juga sampai tahun 1920.

Tetapi menjadi dokter saja tak cukup bagi Sardjito. Beliau mengembangkan ilmu kedokterannya dengan sebuah penelitian. Penelitian pertamanya adalah tentang penyakit influenza.

Baca juga: Prof Dr dr Sardjito

Pada 1922, Sardjito memperdalam ilmunya di fakultas kedokteran universitas Amsterdam.

Setahun kemudian, Sardjito belajar lebih intens lagi tentang penyaki-penyakit tropis, karena hal ini, Sardjito harus pindah ke universitas leiden yang letaknya tidak jauh dari Amsterdam.

Di universitas leiden, Sardjito memperoleh gelar doctor pada tahun 1923. Setelah memperoleh gelar Doctor, Sardjito pergi ke Amerika Serikat untuk mengukuti kursus hygiene di Baltimore, Maryland.

Disinilah, Sardjito memperoleh gelar M.P.H. dari John Hopkins University. Sepulang dari amerika, Sardjito mendapat kepercayaan untuk menjadi dokter laboraturium pusat Jakarta pada 1924.

Baca juga: Latar Belakang Keluarga Hingga Pendidikan Sosok Prof Dr dr Sardjito

Setahun setelahnya, Sardjito dipercaya untuk menjadi ketua boedi oetomo cabang Jakarta. Pada akhir masa jabatannya di laboraturium pusat Jakarta (1929), dia merangkap jabatan sebagai asisten kepala sekolah tinggi kedokteran di Jakarta.

Dari Jakarta, Sardjito pindah ke makasar untuk memegang jabatan kepala laboraturium makasar pada 1930.

Kesempatan kedua datang bagi Sardjito untuk pergi ke luar negeri pada tahun 1931. Kali ini Sardjito pergi ke Berlin, Jerman untuk memperdalam pengetahuannya tentang laboraturium.

Sepulang dari jerman, Sardjito kembali mengepalai sebuah laboraturium, kali ini laboraturium di Semarang selama 13 tahun sampai tahun 1945.

Selama di Semarang ini pula, Sardjito membantu mengadakan penelitian tentang penyakit lepra di Indonesia selama sepuluh tahun.

Di saat yang sama, Sardjito harus membagi tugasnya untuk memegang jabatan sebagai pemimpin redaksi Medische Bricthen (berita ketabiban), sebagai Kedua Mardi Walujo Semarang serta ketua Izi Hokokai Semarang dan anggota pusat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved