Sejarah Monumen Bambu Runcing, Bentuk Perlawanan Rakyat Terhadap Tentara Belanda

Monumen yang menjadi penanda perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda ini sebagai pengingat perjuangan kala itu.

zoom-inlihat foto Sejarah Monumen Bambu Runcing, Bentuk Perlawanan Rakyat Terhadap Tentara Belanda
Istimewa
Bangunan monumen bambu runcing di Sleman.

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Monumen Bambu Runcing yang berbentuk tugu dengan bentuk padma pada puncaknya ini memiliki sederet kisah panjang yang melatari.

Kisah heroik perlawanan rakyat kala itu saat mengusir penjajah dari tanah Yogyakarta. Kisah ini bermula pada hari Jum’at Legi tanggal 28 januari 1949.

Tentara Belanda mengadakan serangan dari daerah Bantul menuju ke utara melalui Selarong, Bibis, Bangunjiwo dan berhenti, menghadang di Gunung Kanigoro.

Sementara itu patroli-patroli Belanda dari kota mengadakan patroli rutin dan melakukan pengejaran dan penyerangan di dusun Sorogenen, Tlogo dan terkhir di dusun Kalimanjung dengan tembakan-tembakan yang gencar.

Laskar Rakyat dan penduduk menyingkir dan mengungsi ke arah selatan, keluar dari dusun Kalimanjung menuju ke gunung Kanigoro yang dianggap aman, karena tidak mengetahui keberadaan pasukan Belanda dari arah Bantul.

Monumen Bambu Runcing Sleman

Desa Wisata Bambu Malangan

Rombongan Laskar Rakyat dan penduduk dengan susah payah dan dalam kondisi letih mendaki gunung Kanigoro, kemudian di serang pasukan Belanda dari arah puncak Kanigoro.

Karena serangan yang membabi buta korban berjatuhan yang terdiri dari penduduk sipil, wanita dan anak-anak berjumlah 41 orang.

Di sebelah kiri dan kanan tugu terdapat prasasti yang berisi nama-nama pahlawan yang gugur dan prasasti peresmian oleh KGPAA Pakualam VIII pada tanggal 15 Januari 1987.

Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Setya Nugraha
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved