Sejarah hingga Produk Andalan di Desa Wisata Bambu Malangan

Kendati memang dikenal sebagai penghasil bahan baku bambu. Ada cerita lain yang membuat wilayah ini dikenal sebagai desa wisata bambu.

Instagram/@desawisata_malangan
Salah satu produk olahan bambu yang dihasilkan oleh perajin di Desa wisata Malangan. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Ada banyak peralatan rumah tangga dari bambu diproduksi di wilayah Desa Wisata Bambu Malangan.

Pro­duk-produk tersebut antara lain tenggok, besek, tampah, tambir, erok-erok, kreneng, kalo, irik, dan sebagainya.

Hingga kini, sebagian be­sar warga di Malangan menganyam bambu sebagai pekerjaan sambilan. Tak sedikit pula yang menja­dikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan pokok.

Seiring dengan berjalannya waktu, kreatifitas dan kebutuhan pasar pun berubah. Pesanan mulai meningkat dengan berbagai macam desain.

Para pengrajin pun selalu berusaha memenuhi permintaan tersebut. Pada tahun 1965, berdirilah pusat kerajinan bambu yang bernama Tunggak Semi di Malangan.

Sanggar ini menampung hasil anyaman warga untuk kemudian dibentuk menjadi aneka desain produk pesanan konsumen.

Usaha ini dirintis oleh Ahmad Sirat, orang tua dari Suryadi (Pemimpin Tunggak Semi saat ini). Dulunya, Ahmad Sirat adalah salah satu pekerja dari P.T Lipin, pabrik kerajinan bambu milik Jepang di wilayah itu.

Karena terjadi ketidak cocokan dengan internal P.T Lipin, Ahmad memilih untuk keluar dan mengembangkan usahanya sendiri.

Nama “Tunggak Semi” di ambil dari nama tunggak, yang berarti potongan dari bambu, dan semi yang berarti tumbuh berkembang kembali.

Desa Wisata Bambu Malangan

Produk olahan bambu dari desa wisata malangan.
Produk olahan bambu dari desa wisata malangan. (Instagram/@desawisata_malangan)

Jika diartikan menjadi bambu yang tunggaknya dipotong pasti akan tumbuh kembali. Dengan maksud usaha ini dapat terus berkembang.

Pada mulanya usaha ini dikembangkan hanya oleh sebatas keluarga, tetapi seiring berjalannya waktu, usaha ini mulai berkembang.

Sejarah Panjang Museum Ullen Sentalu, Tentang Peradaban, Alam hingga Budaya

Pada tahun 1972, usaha kerajinan bambu ini mulai melebarkan sayap, salah satu konsumenya adalah P.T Panca Niaga Jakarta dan mulai diekspor ke luar negeri. Mulai saat itu banyak perusahaan dari Jakarta yang memesan produk kerajinan bambu.

Tahun 1987 Pusat Kerajinan Bambu Tunggak Semi beralih kepemimpinan. Sejak tahun itulah Tunggak Semi dipimipin oleh Suryadi (43) yang mengambil alih pimpinan dari ayahnya.

Di tangan Suryadi inilah Tunggak Semi semakin berkembang.

Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Setya Nugraha
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved