Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu bisa dibilang menjadi museum unik. Banyak sudut hingga pelajaran yang bisa dipetik.

Instagram/@ullensentalu
Bangunan di Museum Ullen Sentalu. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Museum Ullen Sentalu berada di dalam Taman Kaswargan, Kaliurang, Sleman, DIY. Museum Ullen Sentalu adalah museum yang unik.

Museum ini tidak dioperasikan oleh sebuah institusi, melainkan sebuah perusahaan. Museum swasta ini beoperasi dibawah naungan Yayasan Ulating Blencong.

Selain itu, museum ini juga tidak memanfaatkan gedung yang merupakan cagar budaya. Museum ini menempati sebuah gedung baru yang sengaja dibangun pada sebuah lahan kosong.

Selayang Pandang

Menapakkan kaki di kawasan Museum Ullen Sentalu terasa balutan hawa sejuk (15-25° Celcius) dan suasana hening yang menyatu dengan alam pegunungan disekitranya yang sekaligus memberikan rasa damai serta khidmat.

Area seluas 1,2 hektar yang dikembangkan secara bertahap tersebut bernama nDalem Kaswargan atau Rumah Surga, dimana Museum Ullen Sentalu berada.

Jalan masuk menuju ruang pamer museum maupun artshop dan restoran berupa kelokan, undakan, serta labirin akan memberikan nuansa nostalgia, perenungan dan keindahan.

Beberapa bagian bangunan dan unsur yang melengkapinya, seperti gapura, dinding tembok, taman, kolam, mencerminkan keagungan budaya leluhur yang sudah ada sejak masa silam.

Berbagai jenis unsur bangunan Jawa terlihat pada layout dan struktur bangunan bergaya Indis dan post-mo yang bersatu-padu menciptakan harmoni secara menakjubkan.

Koleksi berupa lukisan dan foto foto tokoh sejarah budaya Mataram Islam, kain batik vorstenlanden, karya sastra, arca arca kebudayaan Hindu Buddha, dan koleksi etnografi era Mataram Islam.

Itu membingkai kisah sosial ekonomi politik seni sejarah dan budaya Jawa, terutama kisah para putri di kraton Mataram yang tidak banyak dikisahkan kepada masyarakat awam.

Museum Gunungapi Merapi (MGM)

Sejarah

Seribu enam ratus atau bahkan lebih dari dua ribu tahun. Selama itulah rentang waktu yang telah membentuk budaya Jawa yang eksis dan kita kenal hingga sekarang.

Evolusinya melalui berbagai zaman : Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, juga Mataram beserta empat cabang sempalannya, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Hasil proses peradaban berusia panjang itu pun tak kurang jumlahnya yang bermutu sangat tinggi.

Sebut saja dalam hal ini kitab kitab kuno yang berisikan mitologi, epos, sejarah, ketatanegaraan, pengetahuan dan petuah-petuah berfaedah, hingga ramalan : Bharatayudha, Negarakertagama, Pararaton, Babad Tanah Jawi, Serat Centhini, Serat Wedhatama,dan Serat Kalathida.

Di samping itu ada pula sejumlah adikarya berupa bangunan bangunan berarsitektur megah serta kaya ornamen elok: Candi Borobudur, Percandian Prambanan, Candi Sewu, Candi Penataran, Pasareyan Raja-raja Mataram di Imogiri, juga Istana Air Taman Sari.

Patut disyukuri bahwa banyak dari warisan budaya yang bersifat tangible (bendawi) tersebut sejauh ini terkonservasi dengan cukup baik.

Salah satu sudut bangunan di Museum Ullen Sentalu.
Salah satu sudut bangunan di Museum Ullen Sentalu. (Instagram/@ullensentalu)

Namun, selain warisan budaya yang bersifat tangible ada pula warisan budaya yang bersifat intangible.

Warisan budaya intangible mencakup keseluruhan ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, dan ketrampilan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved