Jangan Buru-buru, Soal Pembukaan Sekolah, KPAI Minta Pemerintah Belajar dari Negara Lain

Permintaan ini menyusul banyak negara yang telah melakukan sekolah tatap muka namun kasus covid-19 justru naik tajam.

Dok KPAI
KPAI menilai banyak sekolah yang belum siap melakukan kegiatan belajar tatap muka ditengah pandemi covid-19. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pemerintah belajar dari negara lain menyoal rencana pembukaan kembali sekolah dengan tatap muka.

KPAI menilai sekalipun Covid-19 menjadi masalah disemua negara, kerentanan dan risiko bisa berbeda.

Indonesia mesti menyelisik dengan hati-hati kerentanan dan kapasitasnya sendiri dalam mengelola risiko pembukaan sekolah sehingga bisa memproyeksikan dengan baik untung ruginya.

"Anak-anak di Korea Selatan, misalnya, kembali ke ke kelas pada pertengahan Mei ketika kasus setiap hari di bawah 50 orang. Sempat mengalami peningkatan kasus sehingga kembali menerapkan pengajaran daring di beberapa sekolah, tetapi dengan kecepatan surveilans, wabah kembali bisa dikendalikan," ujar Retno Listyarti Komisioner KPAI Bidang Pendidikan mencontohkan dalam keterangannya.

Namun, Israel mengalami kegagalan. Mereka kembali menutup sekolah pada 3 Juni setelah membukanya pada 3 Mei. Hanya sebulan setelah membuka sekolah, ada 2.026 siswa, guru, dan staf dinyatakan positif Covid-19 dan 28.147 siswa dikarantina karena diduga terpapar virus.

Di satu sekolah, ada lebih dari 130 kasus. Secara nasional, jumlah kasus meningkat dari 50 kasus baru setiap hari menjadi sekkirat 1.500 kasus per hari dalam sebulan. Data mengungkapkan, sekolah menjadi tempat infeksi tertinggi kedua selama bulan Juni (majalah Time, 20 Juli 2020).

Rekomendasi KPAI Soal Pembukaan Sekolah dengan Tatap Muka Ditengah Wabah Covid-19

Banyak kajian menunjukkan pentutupan sekolah bisa mengerem laju penularan dan kematian akibat Covid-19.

Kajian Katherine A Auger menyebut, penutupan sekolah di Amerika Serikat pada 9 Maret hingga 7 Mei 2020 menurunkan insiden Covid-19 hingga 62% dan kematian berkurang 58%.

Dengan mengekstrapolasi temuan mereka ke populasi AS, peneliti menyimpulkan, penutupan sekolah mengurangi sekitar 1,37 juga kasus dan kematian hingga 40.600 orang (Journal of the American Medical Association, 29 Juli 2020).

"Data memang menjadi kunci. Secara nasional, jelas wabah di Indonesia belum terkendali dengan penambahan rata-rata di atas 1.500-2.000 kasus baru setiap hari dan kematian rata-rata di atas 50 orang per hari, sehingga menempatkan kita di nomor urut ke-23 negara dengan total kasus dan nomor ke-20 kematian terbanyak di dunia," tandas Retno.

Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Setya Nugraha
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved