Trik Sukses dan Strategi Agar Karya Ilmiah Dipublikasi di Jurnal Internasional Bereputasi

Agar karya ilmiah sukses dan bermanfaat, ada trik dan tips khusus yang harus menjadi perhatian para peneliti

Ist
Suasana workshop online Pelatihan Penulisan Artikel untuk Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi bagi Dosen, Jumat (24/7/2020) lalu. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Ketua Umum Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI), Dr. Puji Lestari, M.Si., menjabarkan dalam Pelatihan Penulisan Artikel untuk Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi bagi Dosen, Jumat 24 Juli lalu bahwa pemerintah memiliki kebijakan agar kaum intelektual wajib menulis dan menghasilkan karya ilmiah hasil penelitian.

Seorang sarjana harus menghasilkan skripsi sebagai tugas akhirnya. yang harus dipublikasikan melalui repository atau terbit pada jurnal ilmiah, sebagai syarat kelulusannya.

Untuk lulus program Magister, lebih berat lagi karena harus menghasilkan tesis atau artikel yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah nasional terakreditasi atau jurnal internasional.

"Program Doktor, jenjang yang paling sulit, mengharuskan kandidat menghasilkan disertasi atau karya ilmiah terbit pada jurnal internasional bereputasi. Hasil penelitian dipublikasikan agar dibaca, didiskusikan, dan ada yang diterapkan di masyarakat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni," bebernya dalam pelatihan yang diadakan oleh APJIKI dan Universitas Bakrie Jakarta, secara virtual ini.

Workshop yang menghadirkan pembicara Prof.Dr. Rajab Ritonga, M.Si., dari Universitas Prof.Dr. Moestopo (Beragama), dan Dr. Puji Lestari, M.Si., dari UPN "Veteran" Yogyakarta (UPNVY) ini, bertujuan menambah pengetahuan menulis dan mendorong dosen-dosen dalam meningkatkan penulisan karya ilmiah di Jurnal Internasional Bereputasi dan jurnal terakreditasi.

Prof. Rajab Ritonga selain menjelaskan tentang strategi penulisan artikel di jurnal internasional, juga mereview beberapa artikel yang masuk.

Peserta berasal dari beberapa perguruan kota yakni dari Medan, Yogyakarta, dan Jakarta, bahkan ada peserta yang sedang berada di luar negeri.

Selain membekali peserta cara mempersiapkan penulisan karya atau artikel ilmiah, Puji Lestari juga mereview 11 artikel yang dikirim dari peserta.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Puji Upaya Grab Tekan Laju Penyebaran Wabah Covid-19

Hotel Berbintang Dekat Bandara Adi Sutjipto dan Candi Prambanan

Puji Lestari yang berpengalaman menulis artikel jurnal internasional bereputasi atau terindeks scopus, dan banyak jurnal nasional terakreditasi Sinta ini, mengharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan jumlah publikasi hasil penelitian para dosen dan peneliti.

Serta dapat meningkatkan kualitas penulisan artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi. Kegiatan sharing seperti ini penting diadakan untuk upgrade pengetahuan dan keterampilan para dosen.

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVY) ini menjelaskan, berdasarkan pengalamannya, penelitian dan penulisan publikasi ilmiah membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 12 bulan sehingga perlu strategi yang jitu yaitu fokus, berjejaring, dan memiliki manajemen waktu karena sangat menguras energi dan pikiran.

Menurut Puji Lestari, menulis itu tidak ada yang sulit sepanjang kita memiliki kemauan yang kuat, tekun, minat, dan konsisten sesuai roadmap penelitiannya. Ide dan materi bisa dari mana saja termasuk situasi yang ada di sekeliling kita.

Dalam menulis, seseorang harus jujur terhadap sumber atau rujukan yang dikutipnya. Mengutip yang persis sama dalam tulisan tidak lebih dari 20 persen, agar tidak terjadi plagiarism, caranya harus parafrase.

"Saat ini dosen dituntut untuk cerdas memilih jurnal atau proceeding tempat menyebarluaskan hasil penelitiannya. Penelitian yang baik harus ditulis dengan tepat agar hasilnya dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas," ungkap Puji Lestari.

Dengan mengikuti pelatihan ini, Puji Lestari yakin pemahaman dan kompetensi dosen dalam penulisan ilmiah akan meningkat. Seperti bagaimana teknik menulis yang sesuai petunjuk penulisan agar dapat lolos pada jurnal yang terakreditasi.

Bisa memilih jurnal yang relevan dengan bidang ilmunya. Mampu menggunakan alat bantu teknik sitasi seperti mendeley atau zotero, cek plagiasi seperti turnit in, dan gunakan juga proofreader yang kompeten.

Dalam menulis artikel, kata Puji Lestari, substansi sangat penting. Baik untuk Jurnal ilmiah atau proceeding, paling tidak harus mengandung empat hal.

Pertama, artikel harus ditulis berdasarkan hasil penelitian, ada landasan teori dan metode seperti survei, studi kasus, eksperimen, atau pendekatan lainnya yang digunakan untuk menganalisis suatu fenomena, dengan tujuan menemukan teori, konsep, model, kebijakan baru atau menguji teori atau uji model yang sudah ada sebelumnya.

Tidak kalah penting adalah, adanya state of the art (SOTA) atau novelty dari ilmu dan teknologi, yakni kebaruan apa yang ditawarkan dari penelitian yang dilakukan. Kebaruan temuan ilmiah tidak hanya mengulang penelitian yang sudah ada sebelumnya, serta mengubah metode dan objek. Selanjutnya, harus memiliki keunikan dari penelitian dibandingkan dengan penelitian lainnya.

"Harus memiliki makna sumbangan ilmiah pada kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni. Dapat berupa metode, konsep, teori baru, atau implementasi kebijakan yang sesuai dengan penyelesaian masalah," terang Puji Lestari.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved