Cara Kelola Sampah di Desa Caturharjo, Inisiasi Rumah Kumpul Sampah Hingga Pakai Aplikasi

Desa Caturharjo Pandak Bantul memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk mengelola sampah

Ist
Desa Caturharjo Pandak Bantul meresmikan 77 Rumah Kumpul Sampah (RKS) sebagai upaya pengelolaan sampah mandiri dilingkungan warga. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, BANTUL - Sampah masih menjadi salah satu masalah yang harus dipecahkan. Salah satu desa di kawasan Bantul mencoba memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk mengelola sampah. Ialah Desa Caturharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul yang mengadaptasikannya.

Pendamping Sampah Desa Caturharjo, Pandak, Bantul, Bayu Mantoko menjabarkan pemanfaatan teknologi untuk mengelola sampah ini tercetus lantaran adanya pandemi covid-19.

Pandemi hingga masalah perubahan iklim mendorong pihaknya untuk lebih cerdas, efektif dan efisien dalam menentukan strategi pengelolaan sampah secara ekonomis dan ramah lingkungan.

Dalam masa new normal ini, tentunya diperlukan metode pengelolaan yang tepat baik itu bagi masyarakat, pengelola, pemerintah desa dan lingkungan desa itu sendiri.

"Maka melalui momentum ini, kami kemudian berkolaborasi dan bersama sama seiring sejalan bersama anak muda Yogya yang berhasil menciptakan terobosan baru tentang penggunaan sistem informasi digital untuk pengelolaan sampah, yaitu Aplikasi Juru Sampah yang disediakan melalui PT. Juru Supervisi Indonesia," katanya, Senin (27/7/2020).

"Aplikasi ini yang dapat sesuai dengan visi misi pengelolaan sampah desa kami yaitu “seko lemah bali lemah, seko pabrik bali pabrik”," lanjutnya.

Silaturahmi Budaya, Wujudkan Perdamaian di Yogyakarta Tanpa Rasisme

Silaturahmi Budaya, Wujudkan Perdamaian di Yogyakarta Tanpa Rasisme

Aplikasi ini, kata Bayu, berperan sebagai sistem informasi, sistem yang mengkoneksikan semua stakeholder yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sampah.

Aplikasi yang sudah tersedia di playstore ini menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini minim informasi mengenai semua hal terkait persampahan dan mempermudah dalam sistem jaringan untuk mengembangkan usaha di bidang pengelolaan sampah.

"Sehingga harapan kami, yaitu Caturharjo atau 4 kemakmuran yakni makmur tanahnya, makmur tanamannya, makmur ternaknya dan makmur warganya dapat tercapai," sebutnya.

Rumah Kumpul Sampah

Sementara itu, Desa Caturharjo sendiri telah mencanangkan Rumah Kumpul Sampah (RKS) dalam pengelolaan sampah di wilayahnya. Rumah Kumpul Sampah atau RKS adalah titik poin pengumpulan sampah non organik di setiap RT di desa Caturharjo, Pandak.

"RKS (Rumah Kumpul Sampah) hanya untuk sampah non organik. RKS digunakan untuk mengumpulkan semua jenis sampah yang tidak dapat terurai secara alami," beber Bayu.

Dalam pengelolaan sampah di RKS, sampah non organik di kategorikan menjadi 2 jenis, yaitu laku jual dan tidak laku jual (residu). RKS akan berada di 77 RT di Desa Caturharjo Bantul.

"Istilah RKS mengadopsi sistem bank sampah yang lebih disederhanakan sehingga mudah diterapkan dimasyarakat pada umumnya," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Desa Caturharjo, Bantul telah mencanangkan gerakan lanjutan 4000 jogangan. Gerakan lanjutan itu adalah gerakan 77 RKS, Seko Pabrik Bali Pabrik.

"RKS (Rumah Kumpul Sampah) ini hanya untuk sampah non organik Rumah kumpul sampah digunakan untuk mengumpulkan semua jenis sampah yang tidak dapat terurai oleh secara alami," sebutnya.

Festival Bersatu dan Kuat SGM Eksplor, Ajak Orang Tua Jadi Guru Bagi Tumbuh Kembang Anak

Artotel Hotel Yogyakarta

Dalam pengelolaan sampah di RKS, sampah non organik di kategorikan menjadi 2 jenis, yaitu laku jual dan tidak laku jual (residu). RKS akan berada di 77 RT di desa Caturharjo.

"Setiap RKS dikelola oleh 1 orang koordinator.
RKS tidak menuntut pengelolanya untuk memilah hingga puluhan jenis sampah. RKS hanya memilah menjadi tiga kategori saja, busuk masuk jogangan, laku jual dan tidak laku jual masuk RKS," katanya.

RKS tidak menuntut pengelolanya untuk administrasi rumit, cukup siapa pelanggannya dan tabungannya tiap bulan yang sudah dihitungkan oleh bank sampah induk.

Pengelolaan tersebut telah dilaksanakan secara swadaya oleh seluruh warga dengan difasilitasi desa melalui BUMDESA Catur Mandiri dengan unit pengelolaan sampahnya yaitu Gasik Resik Mandiri (GRM).

"RKS mengajarkan kekeluargaan karena tabungan dari penjualan RKS adalah tabungan tiap RT artinya sistem tanggung renteng. Berbeda dengan Bank sampah yang lebih bersifat individual," papar Bayu.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved