Candi Banyunibo

Candi Banyunibo menjadi salah satu alternatif candi yang layak dikunjungi. Lokasinya di kawasan Ratu Boko.

candi.perpusnas.go.id
Candi Banyunibo tampak dari depan. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Candi Banyunibo merupakan salah satu peninggalan candi Buddha yang terletak di komplek Ratu Boko. Lokasi tepatnya di Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Lokasinya sekira 200 meter dari Candi Barong, atau sekitar 1 km sebelah barat daya jalan raya Yogya-Solo.

Candi Buddha ini berdiri menghadap ke barat, menyendiri di lahan pertanian. Sekitar 15 meter di depan bangunan candi mengalir sebuah sungai kecil.

Struktur dan Ukuran

Candi ini dibangun pada abad ke-9, Candi Banyunibo terdiri dari satu candi induk dan enam candi perwara.

Ukuran masing-masing stupa hampir memiliki ukuran yang sama yaitu 4,80 x 4,80 m. Pada sisi utara candi induk terdapat tembok yang membujur sepanjang 65 meter dari barat ke timur yang terbuat dari susunan batu.

Dilihat dari bentuk atap candi baik induk maupun perwara menunjukkan bahwa candi ini adalah candi bercorak Buddha.

Ukuran candi induk yaitu 15,325 x 14,25 m dengan tinggi 14,25 m. Pintu candi berada di sebelah barat candi beserta tangga yang menghubungkan ke tubuh candi.

Candi Sewu

Candi Kalasan

Candi Banyunibo tampak menyendiri ditengah areal persawahan yang membuat candi ini disebut sebatang kara.
Candi Banyunibo tampak menyendiri ditengah areal persawahan yang membuat candi ini disebut sebatang kara. (candi.perpusnas.go.id)

Terdapat dinding penampil berupa relief di sebelah kanan dan kiri dinding candi, pada sebelah kanan candi menggambarkan relief seorang wanita yang dikerumuni anak-anak, sedangkan sebelah kiri terdapat relief seorang pria dalam posisi duduk.

Kedua pahatan relief dinding tersebut menggambarkan Hariti, dewi kesuburan dan suaminya, Vaisaravana dalam ajaran agama Buddha. Pada dinding bagian luar candi terdapat sebuah arca Boddhisatva.

Pada dinding bilik candi bagian utara, timur dan selatan terdapat relung yang menonjol keluar serta berbingkai kalamakara yang digunakan untuk menaruh arca.

Saat ini baru candi induknya yang berhasil dipugar. Tak satupun candi perwara yang tersisa. Di halaman belakang candi terdapat sebuah lubang seperti sumur.

Candi Sambisari

Candi Sari

Selisih luas batur dengan tubuh candi membentuk selasar yang cukup lebar untuk dilalui 1 orang.

Dinding dan pelipit atas batur dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur dan dedaunan yang menjulur keluar dari sebuah wadah mirip tempayan.

Di setiap sudut kaki candi terdapat hiasan mirip kepala Kala yang disebut 'jala dwara". Hiasan ini berfungsi sebagai saluran pembuang air hujan. Atap candi berbentuk limasan seperti kubah (dagoba) dengan stupa di puncaknya.

Untuk naik ke selasar di permukaan 'batur' (kaki candi) terdapat tangga selebar sekitar 1,2 m, terletak tepat di depan pintu masuk bilik penampil. Pangkal pipi tangga dihiasi dengan kepala sepasang naga dengan mulut menganga lebar.

Pintu masuk dilengkapi dengan bilik 'penampil' beratap melengkung yang menjorok sekitar 1 m keluar tubuh candi. Sisi depan atap bilik penampil dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur-suluran. Tepat di atas ambang pintu, terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah.

Di bagian dalam dinding, di atas ambang pintu, terdapat pahatan yang menggambarkan Hariti, dewi pelindung anak-anak, sedang duduk bersila diapit oleh dua ekor burung merak.

Pada dinding selatan bilik penampil terdapat relief yang menggambarkan Kuwera, dewa kekayaan, sedang duduk duduk dengan tangan kanan tertumpu paha. Di sebelah kirinya, agak ke belakang, seorang pelayan memegangi pundi-pundi berisi uang.

Pada dinding di keempat sisi tubuh candi terdapat jendela palsu, yaitu lubang yang terlihat seperti sebuah jendela, namun sesungguhnya lubang tersebut tidak menembus ke ruang dalam tubuh candi.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved