Solo Tetapkan KLB, Pengelola Prambanan, Borobudur dan Ratu Boko Belum Berencana Tutup Destinasi

PT TWC belum berencana menutup destinasi wisata candi yang dikelola di Jawa Tengah dan DIY.

Istimewa
Pementasan Sendratari Ramayana di kompleks Candi Prambanan. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, SLEMAN - Pemerintah Kota Solo melalui Wali Kota FX Hadi Rudyatmo, Jumat (13/3/2020) malam menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB)  terhadap penyebaran corona pasca meninggalnya salah satu pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Moewardi Surakarta beberapa hari lalu. 

Sejumlah agenda yang mengundang banyak massa dan agenda olahraga di sejumlah stadion pun disetop. 

Upacara bendera di balai kota ditiadakan, beberapa kegiatan lainnya juga ditunda selama Solo KLB corona. Termasuk CFD, disetop hingga batas waktu yang belum ditentukan. 

Siswa sekolah pun diarahkan untuk belajar di rumah masing-masing hingga batas waktu yang belum diketahui. 

Beberapa kegiatan Pemkot juga ada yang dibatalkan seperti kunjungan kerja, lomba kelurahan, event budaya dan olahraga.

Wisatawan Merosot hingga 40 Persen, Pengelola Candi Prambanan dan Borobudur Siapkan Strategi Lain

Selain itu pentas ketoprak di Sriwedari dan destinasi serta transportasi pariwisata di Solo juga ditutup sementara.

Pasca penetapan KLB oleh Pemkot Solo, pengelola Candi Prambanan, Borobudur dan Ratu Boko sebagai salah satu destinasi yang cukup dekat dengan Kota Solo belum berencana menutup destinasi heritage yang tersebar di Jawa Tengah dan DIY ini. 

Hal ini diungkap oleh Sekretaris PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Emilia Eny Untary dikonfirmasi TribunJogja.com, Sabtu (14/3/2020).

"Sampai saat ini kondisi masih aman belum ada arahan untuk penutupan obyek wisata candi," kata Emilia melalui pesan singkat. 

Ditemui sehari sebelumnya, Direktur Utama PT TWC Edi Setijono menjelaskan pihaknya menetapkan protokol yang cukup ketat untuk mencegah penyebaran virus tersebut di kawasan destinasi yang dikelola. 

Beberapa diantaranya adalah ditetapkannya standar operational procedure (SOP) terkait pencegahan virus corona. Selain itu, sejumlah langkah juga sudah dilakukan.

Diantaranya meliputi, pemasangan banner informasi soal pencegahan dan bahaya virus corona, pengukuran suhu tubuh wisatawan dengan thermal scanner, penyediaan tenaga medis di klinik hingga ambulans yang siaga selama objek wisata beroperasi.

"Kami melakukan pengukuran suhu tubuh di pintu masuk candi. Wisatawan dengan suhu tubuh diatas normal atau 38 derajat celcius atau lebih akan dibawa ke klinik terlebih dahulu untuk diperiksa. Jika memang menunjukkan gejala atau indikasi covid-19, tak menutup kemungkinan wisatawan akan langsung dirujuk ke rumah sakit untuk penanangan lebih lanjut," kata Edy, Jumat (13/3/2020).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved