Balai Besar Kerajinan dan Batik Mulai Kenalkan Teknologi Baru untuk Kain Batik

Sebagai pengembangan teknologi pada batik, Balai Besar Kerajinan dan Batik mengembangkan batik anti bakteri

Tribunjogjawiki.com/Wahyu Setiawan Nugroho
Pemaparan Kain anti bakteri dalam acara Ngopi Bareng Rasan-rasan (Ngobras) Industri Kerajinan dan Batik di Lobby Kantor Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jalan Kusumanegara No 7, Kota Yogyakarta, Jumat (17/1/2020). 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYA - Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) mengenalkan teknologi terbaru yang diterapkan pada kain batik.

Teknologi tersebut ialah kain batik anti bakteri.

Pengenalan itu dilakukan dalam sela acara Ngopi Bareng Rasan-rasan (Ngobras) Industri Kerajinan dan Batik di Lobby Kantor BBKB, Jalan Kusumanegara No 7, Kota Yogyakarta, Jumat (17/1/2020).

Peneliti BBKB Istihanah Nurul Eskani menjelaskan batik anti bakteri sejatinya hasil penelitian yang dilakukan BBKB di tahun 2019 lalu.

"Batik antibakteri dibuat dengan mengaplikasikan oksida logam nanopartikel Seng Oksida (ZnO) pada kain sebelum atau setelah proses pembatikan," ujarnya saat ditemui media.

Oleh karena itu, proses pembatikan tetap dilakukan dengan cara seperti pada umumnya yakni pemalaman, pewarnaan dan lainnya.

Balai Besar Kerajinan dan Batik Kembangkan Batik Anti Bakteri

Dikatakan, proses pemberian anti bakteri pada kain sebelum atau sesudah proses pembatikan ini sejatinya tak lama. Hanya membutuhkan bahan dan alat khusus.

"Mungkin itu tantangan kedepan, bagaimana membuat bahan dan alat pemberian anti bakteri ini kepada industri sehingga bisa diproduksi massal," tambahnya.

Terkait daya tahan anti bakteri pada kain batik, Istihanah menjabarkan kain batik yang sudah diberi anti bakteri ini mampu bertahan hingga 15-20 kali cucian.

"Sehingga kita sarankan kain batik anti bakteri ini digunakan pada batik-batik yang sifatnya untuk koleksi," paparnya.

Lebih lanjut, batik anti bakteri ini sendiri disebutkan juga mampu memiliki ketahanan dan keawetan yang lebih ketimbang batik dengan kain biasa.

Kain batik anti bakteri mampu menjaga kekuatan kain lantaran mampu menangkal bakteri yang bersifat korosif atau merusak kain.

Kepala BBKB Ir Titik Purwati Widowati menambahkan hasil penelitian ini sudah melewati berbagai tahap dan telah dilakukan pengujian.

"Produk batik yang telah diaplikasi nanopartikel ZnO ini telah diuji dengan pengujian metode agar plate test dan terbukti mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus," tambahnya.

(TRIBUNNEWSWIKI/Wahyu Setya)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved