Balai Besar Kerajinan dan Batik Kembangkan Batik Anti Bakteri

Keunggulan batik anti bakteri mampu memberi ketahanan bahan dan lebih awet

Tribunjogjawiki.com/Wahyu Setiawan Nugroho
Pemaparan Kain anti bakteri dalam acara Ngopi Bareng Rasan-rasan (Ngobras) Industri Kerajinan dan Batik di Lobby Kantor Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jalan Kusumanegara No 7, Kota Yogyakarta, Jumat (17/1/2020). 

TRIBUNNEWSWIKI.COM, YOGYA - Siapa yang tak kenal dengan batik?

Mungkin kain yang sudah ditetapkan sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia serta telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada 2 Oktober 2009 sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity yang berasal dari Indonesia menjadi kain yang sangat familiar.

Bahkan kain batik sudah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia sejak jaman dahulu.

Masyarakat menggunakan batik dari upacara kelahiran bayi sampai upacara kematian.

Oleh karenanya, saat ini diperlukan pengembangan batik yang lebih relevan untuk kehidupan saat ini.

Salah satu yang dihasilkan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) adalah batik anti bakteri.

Komunitas Kebaya Indonesia Ajak Perempuan Berbudaya dan Berdaya

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Ir Titik Purwati Widowati, MP menyampaikan bahwa pada tahun 2019 Balai Besar Kerajinan dan Batik telah melakukan penelitian tentang batik yang bersifat anti bakteri ini.

Batik antibakteri ini, kata Titik, dibuat dengan mengaplikasikan oksida logam nanopartikel Seng Oksida (ZnO) pada kain sebelum atau setelah proses pembatikan.

"Batik anti bakteri ini dibuat tanpa mengurangi proses pembatikan seperti pemalaman, pewarnaan dan proses lainnya," paparnya, Jumat (17/1/2020).

Batik anti bakteri ini nantinya bisa diaplikasikan pada semua jenis kain batik hanya saja ketahanan batik anti bakteri ini hanya sampai 15-20 kali cucian.

Oleh karenya, pihaknya saat ini tengah mengembangkan bagaimana alat pemberian anti bakteri pada kain ini bisa digunakan oleh industri baik skala kecil, menengah atau besar.

Proses

Peneliti BBKB Istihanah Nurul Eskani mengatakan proses pengaplikasian anti bakteri pada kain batik ini bisa dilakukan sebelum maupun sesudah proses pembatikan.

Caranya dengan mengaplikasikan oksida logam nanopartikel Seng Oksida (ZnO).

Caranya, kain dicelupkan pada larutan ZnO kemudian dilakukan proses padding atau pemerasan dengan alat padder yang selanjutnya dilakukan proses pengeringan pada suhu 80 derajat celcius selama kurang lebih 5 menit dan curing pada suhu 140 derajat celcius selama kurang lebih 3 menit dengan alat stenter.

"Selanjutnya kain yang sudah diaplikasi ZnO dilakukan proses pembatikan dan pewarnaan kemudian pelorodan," tambahnya.

Selain sebelum proses pembatikan, pengaplikasian ZnO juga bisa dilakukan setelah pembatikan.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2020 Resmi Dirilis Bersamaan dengan Selasa Wage

"Aplikasi nanopartikel ZnO pada kain sebelum proses pembatikan dapat meningkatkan serapan warna pada pewarnaan menggunakan zat warna alam, atau dengan kata lain, nanopartikel ZnO selain memberikan sifat antibakteri juga dapat digunakan sebagai mordan (pengikat warna) pada kain," sebutnya.

Produk batik yang telah diaplikasi nanopartikel ZnO pun kata Istihanah telah diuji dengan pengujian metode agar plate test.

"Dan terbukti mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus," tutupnya.

(TRIBUNNEWSWIKI/Wahyu setya)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved