Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg memiliki sejarah panjang terhadap masa penjajahan Belanda di Indonesia hingga merdeka.

Museum Benteng Vredeburg
Tribunjogjawiki.com/Wahyu Setiawan Nugroho
Pintu masuk utama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta 

TRIBUNNEWSWIKI.COM, YOGYAKARTA - Museum Benteng Vredeburg merupakan bangunan yang semula berfungsi sebagai benteng pada masa penjajahan Belanda dan saat ini difungsikan sebagai museum.

Areal Museum Benteng Vredeburg menempati tanah seluas 46.574 meter persegi.

Lokasinya berada di Jalan Margo Mulyo Kota Yogyakarta atau sisi selatan dari Pasar Beringharjo atau sisi timur dari Gedung Agung dan sisi utara dari Keraton Yogyakarta.

Berdasarkan SK Mendikbud RI No. 0475/0/1992 tanggal 23 November 1992, secara resmi Museum Benteng Vredeburg menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yoyakarta.

Bangunan Benteng yang saat ini difungsikan sebagai akses pintu utama dan ticketing di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta
Bangunan Benteng yang saat ini difungsikan sebagai akses pintu utama dan ticketing di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (Tribunjogjawiki.com/Wahyu Setiawan Nugroho)

Sejarah

Benteng vredeburg pertama kali dibangun pada tahun 1760 atas perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan permintaan pihak pemerintah Belanda yang saat itu dipimpin oleh Nicholaas Harting yang menjabat sebagai Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa.

Adapun dalih awal tujuan pembangunan benteng ini adalah untuk menjaga kemananan keraton.

Akan tetapi, maksud sebenarnya dari keberadaan benteng ini adalah untuk memudahkan pengawasan pihak Belanda terhadap segala kegiatan yang dilakukan pihak keraton Yogyakarta.

Pembangunan benteng pertama kali hanya mewujudkan bentuk sederhana, yaitu temboknya yang ahnya berbahankan tanah, ditunjang dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu pohon kelapa dan aren, dengan atap ilalang.

Bangunan tersebut dibangun dengan bentuk bujur sangkar yang di keempat ujungnya dibangun seleka atau bastion.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Setya Nugraha
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved