Makna Pohon Beringin di Alun-Alun Utara Yogyakarta, Lambangkan Hubungan dengan Tuhan

Ada dua pohon beringin yang diletakkan berpagar ditengah Alun-alun Utara Yogyakarta. Lantas apa maknanya?

TRIBUNNEWSWIKI/WAHYUSN
Dua buah pohon beringin kurung yang berlokasi ditengah Alun-alun Utara Yogyakarta. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM, YOGYAKARTA - Siapa tak tahu bahwa alun-alun utara dan selatan di Yogyakarta memiliki dua buah pohon beringin ditengah lapangan dan dikurung dengan pagar?

Rupanya, kedua pohon beringin tersebut tak asal ditanam dan tumbuh ditengah alun-alun.

Khusus di Alun-alun Utara Yogyakarta, kedua pohon beringin kurung tersebut diberi nama Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru (yang sekarang bernama Kiai Wijayadaru).

Menurut Serat Salokapatra, benih Kiai Janadaru berasal dari Keraton Pajajaran, sementara Kiai Dewadaru benihnya berasal dari Keraton Majapahit.

Kiai Dewadaru berasal dari kata dewa yang berarti Tuhan dan ndaru yang berarti wahyu.

Pohon ini berada di sebelah barat dari garis sumbu filosofis.

Bersama-sama dengan Masjid Gedhe yang juga berada di sebelah barat garis sumbu filosofis, pohon ini memberi gambaran hubungan manusia dengan Tuhannya.

Penempatan ini adalah wujud bagaimana Sri Sultan Hamengku Buwono I menggambarkan konsep Islam habluminallah.

Sementara Kiai Janadaru yang bermakna lugas pohon manusia, bersama dengan Pasar Beringharjo, berada di sisi timur dari sumbu filosofis.

Hal ini melambangkan hubungan manusia dengan manusia, sebuah konsep Islam hablumminannas.

Sebagaimana Alun-alun Selatan, seluruh permukaan Alun-alun Utara juga ditutup dengan pasir lembut.

Hal ini merupakan penggambaran laut tak berpantai yang merupakan perwujudan dari kemahatakhinggaan Tuhan.

Maka secara keseluruhan, makna alun-alun beserta kedua pohon beringin di tengahnya menggambarkan konsepsi manunggaling kawula Gusti, bersatunya raja rakyat dengan raja dan bertemunya manusia dengan Tuhan.

Terdapat 62 pohon beringin mengelilingi Alun-Alun Utara.

Beserta dua beringin di tengah, total terdapat 64 pohon beringin.

Jumlah ini menggambarkan usia Nabi Muhammad SAW ketika beliau meninggal dalam perhitungan Jawa.

(TRIBUNNEWSWIKI/WAHYU SETYA)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved