Monumen Jogja Kembali

Monumen Jogja Kembali merupakan monumen mengenang peristiwa tiga tahun perebutan kembali Indonesia dari tangan Belanda.

TRIBUNNEWSWIKI.COM/WAHYU SETYA
Bangunan Monumen Jogja Kembali (Monjali). 

Informasi Awal

TRIBUNNEWSWIKI.COM, YOGYAKARTA - Monumen Jogja Kembali ( Monjali) merupakan sebuah bangunan monumen yang terletak di Kampung Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, DIY.

Lokasinya berada di sisi utara jalan ring road utara.

Monumen Jogja Kembali didirikan untuk memperingati sebuah peristiwa kembali berfungsinya Ibu Kota Yogyakarta setelah berhasil direbut dari penjajah Belanda, peristiwa ini terjadi pada 29 Juni 1949.

Ide atau gagasan untuk mendirikan museum ini dikemukakan oleh Kolonel Soegiarto yang menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta kala itu.

Monumen Jogja Kembali di bangun pada 29 Juni 1985, kemudian diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.

Monumen Jogja Kembali dibangun diatas lahan seluas 5 hektar.

Monumen Jogja Kembali memiliki bentuk bangunan seperti kerucut dengan ketinggian 31,8 meter.

Bangunan Monumen Jogja Kembali (Monjali).
Bangunan Monumen Jogja Kembali (Monjali). (TRIBUNJOGJAWIKI.COM)

Bangunan

Bangunan Monumen Jogja Kembali terdiri dari 3 lantai dengan lantai 1 berisi 4 ruang museum, lantai 2 berisi 10 Diorama dan 40 buah Relief adegan perjuangan, dan lantai 3 adalah Ruang Graba Graha (ruang hening).

Memasuki area monumen, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat.

Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen.

Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.

Monumen dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama.

Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Peristiwa Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI.

Seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi.

Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar, pameran atau pesta pernikahan.

Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949.

Sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut.

Sedangkan di dalam bangunan, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.

Ikuti kami di
KOMENTAR
46 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved